A. Pengertian
Kesehatan masyarakat, adalah ilmu
dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik
dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk
meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan
individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan
perawatan. Yang digunakan untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan
pengembangan aspek sosial, serta untuk mendukung agar setiap orang di
masyarakat mempunyai standar kehidupan yang adekuat untuk menjaga kesehatannya.
Menurut Winslow (1920), bahwa
Kesehatan Masyarakat (Public Health,) adalah Ilmu dan Seni : mencegah
penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui “Usaha-usaha
Pengorganisasian masyarakat “ untuk :
-
Perbaikan sanitasi lingkungan
-
Pemberantasan penyakit-penyakit menular
-
Pendidikan untuk kebersihan perorangan
-
Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini
dan pengobatan.
-
Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan
hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya.
Dari pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya berurusan
sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran pencegahan
sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan masyarakat.
Dalam perkembangan selanjutnya untuk
mengatasi masalah kesehatan termasuk penyakit di kenal tiga tahap
pencegahan:
a) Pencegahan
primer: promosi kesehatan (health promotion) dan perlindungan khusus (specific
protection).
-
Pencegahan primer dilakukan pada masa individu belum menderita sakit, upaya
yang dilakukan ialah:
-
Promosi kesehatan/health promotion yang ditujukan untuk meningkatkan daya tahan
tubuh terhadap masalah kesehatan.
-
Perlindungan khusus (specific protection): upaya spesifik untuk mencegah
terjadinya penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi,
peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan
untuk menanggulangi stress dan lain-lain.
b) Pencegahan sekunder:
diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment),
pembatasan cacat (disability limitation)
-
Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu mulai sakit
-
Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment),
tujuan utama dari tindakan ini ialah 1) mencegah penyebaran penyakit bila
penyakit ini merupakan penyakit menular, dan 2) untuk mengobati dan
menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya
komplikasi dan cacat.
-
Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi
diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga
mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi.
c) Pencegahan
tersier: rehabilitasi.
Rehabilitasi, pada proses ini
diusahakan agar cacat yang di derita tidak menjadi hambatan sehingga individu
yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik, mental dan sosial.
B. Ruang Lingkup Kesehatan
Masyarakat
Disiplin ilmu yang mendasari ilmu
kesehatan masyarakat antara lain, mencakup :
- Ilmu biologi
- Ilmu kedokteran
- Ilmu kimia
- Fisika
- Ilmu Lingkungan
- Sosiologi
- Antropologi (ilmu yang mempelajari
budaya pada masyarakat)
- Psikologi
- Ilmu pendidikan
Oleh karena itu ilmu kesehatan
masyarakat merupakan ilmu yang multidisiplin. Secara garis besar, disiplin ilmu
yang menopang ilmu kesehatan masyarakat, atau sering disebut sebagai pilar
utama Ilmu Kesehatan Masyarakat ini antara lain sbb :
- Epidemiologi.
- Biostatistik/Statistik Kesehatan.
- Kesehatan Lingkungan.
- Pendidikan Kesehatan dan Ilmu
Perilaku.
- Administrasi Kesehatan Masyarakat.
- Gizi Masyarakat.
- Kesehatan Kerja.
II. Perkembangan Kesehatan
Masyarakat di Indonesia
|
Abad Ke-16
|
Pemerintahan Belanda mengadakan
upaya pemberantasan cacar dan kolera yang sangat ditakuti masyarakat pada
waktu itu. Sehingga berawal dari wabah kolera tersebut maka pemerintah
Belanda pada waktu itu melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.
|
|
Tahun 1807
|
Pemerintahan Jendral Daendels,
telah dilakukan pelatihan dukun bayi dalam praktek persalinan. Upaya ini
dilakukan dalam rangka upaya penurunan angka kematian bayi pada waktu itu,
tetapi tidak berlangsung lama, karena langkanya tenaga pelatih.
|
|
Tahun 1888
|
Berdiri pusat laboratorium
kedokteran di Bandung, yang kemudian berkembang pada tahun-tahun berikutnya
di Medan, Semarang, surabaya, dan Yogyakarta. Laboratorium ini menunjang
pemberantasan penyakit seperti malaria, lepra, cacar, gizi dan sanitasi.
|
|
Tahun 1925
|
Hydrich, seorang petugas kesehatan
pemerintah Belanda mengembangkan daerah percontohan dengan melakukan
propaganda (pendidikan) penyuluhan kesehatan di Purwokerto, Banyumas, karena
tingginya angka kematian dan kesakitan.
|
|
Tahun 1927
|
STOVIA (sekolah untuk pendidikan
dokter pribumi) berubah menjadi sekolah kedokteran dan akhirnya sejak
berdirinya UI tahun 1947 berubah menjadi FKUI. Sekolah dokter tersebut punya
andil besar dalam menghasilkan tenaga-tenaga (dokter-dokter) yang
mengembangkan kesehatan masyarakat Indonesia
|
|
Tahun 1930
|
Pendaftaran dukun bayi sebagai
penolong dan perawatan persalinan
|
|
Tahun 1935
|
Dilakukan program pemberantasan
pes, karena terjadi epidemi, dengan penyemprotan DDT dan vaksinasi massal.
|
|
Tahun 1951
|
Diperkenalkannya konsep Bandung
(Bandung Plan) oleh Dr.Y. Leimena dan dr Patah (yang kemudian dikenal dengan
Patah-Leimena), yang intinya bahwa dalam pelayanan kesehatan masyarakat,
aspek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan. konsep ini kemudian
diadopsi oleh WHO. Diyakini bahwa gagasan inilah yang kemudian dirumuskan
sebagai konsep pengembangan sistem pelayanan kesehatan tingkat primer dengan membentuk
unit-unit organisasi fungsional dari Dinas Kesehatan Kabupaten di tiap
kecamatan yang mulai dikembangkan sejak tahun 1969/1970 dan kemudian disebut
Puskesmas.
|
|
Tahun 1952
|
Pelatihan intensif dukun bayi
dilaksanakan
|
|
Tahun 1956
|
Dr.Y.Sulianti mendirikan “Proyek
Bekasi” sebagai proyek percontohan/model pelayanan bagi pengembangan
kesehatan masyarakat dan pusat pelatihan, sebuah model keterpaduan antara
pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis.
|
|
Tahun 1967
|
Seminar membahas dan merumuskan
program kesehatan masyarakat terpadu sesuai dengan masyarakat Indonesia.
Kesimpulan seminar ini adalah disepakatinya sistem Puskesmas yang terdiri
dari Puskesmas tipe A, tipe B, dan C.
|
|
Tahun 1968
|
Rapat Kerja Kesehatan Nasional,
dicetuskan bahwa Puskesmas adalah merupakan sistem pelayanan kesehatan
terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah (Depkes) menjadi Pusat
Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas disepakati sebagai
suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif dan preventif
secara terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau, dalam wilayah kerja kecamatan
atau sebagian kecamatan di kotamadya/kabupaten.
|
|
Tahun 1969
|
Sistem Puskesmas disepakati 2
saja, yaitu tipe A (dikepalai dokter) dan tipe B (dikelola paramedis). Pada
tahun 1969-1974 yang dikenal dengan masa Pelita 1, dimulai program kesehatan
Puskesmas di sejumlah kecamatan dari sejumlah Kabupaten di tiap Propinsi.
|
|
Tahun 1979
|
Tidak dibedakan antara Puskesmas A
atau B, hanya ada satu tipe Puskesmas saja, yang dikepalai seorang dokter
dengan stratifikasi puskesmas ada 3 (sangat baik, rata-rata dan standard).
Selanjutnya Puskesmas dilengkapi dengan piranti manajerial yang lain, yaitu
Micro Planning untuk perencanaan, dan Lokakarya Mini (LokMin) untuk
pengorganisasian kegiatan dan pengembangan kerjasama tim.
|
|
Tahun 1984
|
Dikembangkan program paket terpadu
kesehatan dan keluarga berencana di Puskesmas (KIA, KB, Gizi, Penaggulangan
Diare, Immunisasi)
|
|
awal tahun 1990-an
|
Puskesmas menjelma menjadi
kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan
kesehatan masyarakat yang juga memberdayakan peran serta masyarakat, selain
memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di
wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
|
Dengan pesatnya perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu kesehatan masyarakat dan kedokteran,
pencegahan juga mengalami perkembangan. Beberapa perkembangan ilmu kesehatan
masyarakat pada dekade terakhir ini, ialah:
1) Peningkatan praktek
manajemen pada pencegahan dan pelayanan kesehatan.
Ini ditandai dengan perhatian ahli
kesehatan masyarakat pada standar pelayanan yang memperhatikan teknik
peningkatan kualitas, pengukuran hasil/output dan outcome/dampak kegiatan
kesehatan masyarakat.
2) Perluasan definisi dari
populasi dan kelompok.
Pada umumnya populasi/penduduk yang
merupakan target dari sasaran program kesehatan masyarakat, biasa
didefinisikan dalam bentuk wilayah geografis. Pada saat ini definisi itu tidak
hanya menyangkut geografis/wilayah akan tetapi juga menyangkut administratif
atau kelompok misalnya pekerja, pemulung, profesional muda dan lain-lain.
Akibatnya terbuka kesempatan yang luas untuk melakukan kemitraan antara
berbagai organisasi kesehatan masyarakat pemerintah maupun swasta. Dalam melakukan
kegiatan kesehatan masyarakat.
3) Peningkatan dan penajaman
definisi dan pengukuran status kesehatan.
Sepuluh tahun terakhir ini terjadi
perkembangan yang pesat tentang cara mengukur kualitas kehidupan (Quality of
Life), sebagai salah satu ukuran kesehatan, ukuran itu antara lain: DALY
(Disability Adjusted Life Year) yang mengukur beban penyakit yang dinyatakan
dalam bentuk tahun kehidupan yang hilang karena kematian dan tahun kehidupan
dengan cacat yang dikaitkan dengan derajad cacat yang di derita. Satu DALY
adalah hilangnya satu tahun kehidupan yang sehat. Ukuran ini ikut berkontribusi
terhadap pengertian akan status kesehatan dan upaya mencapai status kesehatan
yang optimal. (WHO, 1999)
4) Peningkatan cara melakukan
interpretasi ilmiah yang relevan terhadap program kesehatan masyarakat.
Peningkatan untuk melakukan
interpretasi ilmiah atas praktek pencegahan dan penanggulangan, dengan
menggunakan fakta/evidence. Hal ini sejalan dengan perkembangan “evidence
based-medicine“ (Kedokteran yang berdasarkan fakta, (Maynard, 1996, Sackett et
al, 1996, Geyman 1998), sehingga mulai dikembangkan metode analisa yang dikenal
dengan “evidence based public health“ atau kesehatan masyarakat yang
berbasiskan fakta. (Kington, 1998)
5) Penekanan terhadap ukuran
outcome/dampak.
Perkembangan kesehatan
masyarakat berdasarkan fakta/evidence based practice mendorong lebih lanjut
pada orientasi indikator dampak kesehatan masyarakat. Ini terutama untuk
menilai dan melihat akibat dari suatu program kesehatan masyarakat, kalau pada
masa lampau orientasi ditujukan pada proses/pelaksanaan dan hasil program, maka
saat ini ada kecenderungan untuk menilai dampak dari program kesehatan
masyarakat yang berarti memperhatikan dan mengukur secara keseluruhan keadaan
masyarakat atau populasinya serta faktor yang mempengaruhi secara makro.
6) Penekanan akan peran
sentral dari masyarakat sebagai penentu peningkatan status kesehatan.
Kecenderungan untuk mengutamakan
partisipasi aktif masyarakat dalam menetapkan tujuan upaya kesehatan masyarakat
di tingkat lokal. Pendekatan ini mengutamakan masalah kesehatan masyarakat yang
menjadi prioritas lokal, untuk diatasi dengan menggunakan sumber daya yang
terbatas. Contoh hal ini adalah pendekatan primary health care dan gerakan kota
sehat yang dilakukan diberbagai kota dan negara.
III. Konsep Penyakit
Penyakit
adalah kegagalan dari mekanisme adaptasi suatu organisme, untuk bereaksi secara
tepat terhadap rangsangan atau tekanan, sehingga timbul gangguan pada fungsi
atau struktur dari organisasi atau sistem tubuh.
-
Suatu keadaan dimana proses kehidupan tidak lagi teratur / terganggu
perjalanannya
-
Suatu keadaan dimana adanya gangguan terhadap bentuk dan fungsi tubuh sehingga
berada dalam keadaan yang tidak normal
A. Teori
Penyebab Penyakit
- Teori Contagion
- Penyakit terjadi akibat
kontak antara satu orang dengan orang lain
- Berawal dari pengamatan
terhadap penyakit kusta di Mesir
2 . Teori Hippocrates
- Penyakit timbul akibat pengaruh
lingkungan (air, udara, tanah, cuaca, dll)
- Tidak dijelaskan kedudukan manusia
dalam interaksi tersebut
-Tidak dijelaskan faktor
lingkungan bagaimana yang dapat menimbulkan penyakit
3. Teori Humoral
Penyakit timbul akibat gangguan dari
keseimbangan cairan dalam tubuh.
à Tubuh terdiri dari 4 cairan
(putih, kuning, merah dan hitam) Ã Bila terjadi ketidak keseimbangan, timbul
penyakit. Jenis penyakit tergantung pada jenis cairan yang dominan.
4. Teori Miasma
Penyakit timbul akibat sisa makhluk
hidup yang mengalami pembusukan, sehingga menyebabkan pengotoran udara dan
lingkungan sekitarnya.
5. Teori Jasad Renik
- Penyakit disebabkan oleh
jasad renik.
- Pada teori ini jasad renik (germ)
dianggap sebagai penyebab tunggal penyakit.
- Berkembang setelah
ditemukannya mikroskop.
6. Teori Ekologi
Lingkungan
Manusia berinteraksi dengan berbagai
faktor penyebab dalam lingkungan tertentu. Pada keadaan tertentu akan
menimbulkan penyakit.
B. Konsep
Dasar Timbulnya Penyakit
- Agent (Sebab/ pembawa)
Suatu substansi atau elemen makhluk
hidup atau bukan makhluk hidup, yang kehadirannya /ketidakhadirannya dapat
menimbulkan /mempengaruhi perjalanan suatu penyakit. Berikut merupakan
jenisnya:
1) Nutrisi
- Karbohidrat:
berlebihan è obesitas
- Lemak: berlebihan è
hiperlipidemia
- Protein: kekurangan è
protein energi malnutrisi
- Vitamin:
- Defisiensi vitamin A è rabun senja
- Defisiensi vitamin C è skorbut
2)Kimia
- Logam berat
-
Merkuri
-
Kadmium
-
Timbal
-
Uranium
- Minuman keras
- Bahan-bahan kosmetik
- Obat-obatan, alergen
3)
Biologis
Pengaruh yanga terjadi langsung dari
dalam tubuhnya
2. Virulensi
-
Derajat berat ringannya reaksi yang ditimbulkan oleh agen biologik
-
Proporsi orang dengan penyakit klinis menjadi sakit yang berat atau mati
-
Contoh:
–
Virus Hepatitis A (ptogenisitas rendah dan virulensi yang rendah)
–
Campak (patogenisitas tinggi, tetapi virulensi rendah)
–
Rabies (patogenisitas tinggi, virulensi tinggi)
4)
Fisika
3. Radiasi
–
Dapat menyebabkan kanker kulit
- Suhu udara
–
Dingin: menimbulkan frost bite
–
Panas: menimbulkan dehidrasi, heat stroke
4. Kelembaban
–
Rendah: hiperhidrosis
5. Intensitas
suara
–
Bising, frekuensi tinggi: Gangguan pendengaran
–
Vibrasi
5) Mekanik
- Friksi yang kronik
Pemakaian sepatu yang sempit è verucca
vulgaris (kutil)
- Kompresi atau daya mekanik menekan atau memutar
Menimbulkan carpal tunnel syndrom
- Host
Semua faktor yang ada pada diri
manusia yang dapat mempengaruhi timbulnya serta perjalanan penyakit. Misalnya:
- Keturunan
- Umur
- Jenis kelamin
- Ras
- Status perkawinan
- Pekerjaan
- Kebiasaan hidup
- C. Jenis Penyakit
- Penyakit menular
Penyakit menular disebabkan oleh
sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau parasit), bukan disebabkan faktor
fisik (seperti luka bakar dan trauma benturan) atau kimia (seperti keracunan).
Serta dapat ditularkan atau menular kepada orang lain melalui media tertentu.
- Media penularan
- air (jentik nyamuk,
dll)
- udara (TBC, Infulenza
dll)
- tempat makan dan minum
yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis, Typhoid/Types dll)
- jarum suntik dan
transfusi darah (HIV Aids, Hepatitis dll)
- hewan parasit
- Bukan penyakit menular
Penyakit bawaan/keturunan, kecacatan
akibat kesalahan proses kelahiran, dampak berbagai penggunaan obat atau
konsumsi makanan serta minuman. Termasuk merokok, kondisi stress yang
mengakibatkan gangguan kejiwaan
- Penyakit baru ataupun penyakit lama yang muncul kembali, setelah puluhan tahun dapat dilenyapkan.
Beberapa contoh :
Anthrax di Zimbabwe, Cholera di
Marshal Island, Ebola Virus di Uganda, TBC di AS & Eropa, Campak di India,
Yellow Fever di Guinea, serta di Indonesia : Demam Berdarah, Malaria, Anthrax,
Diare, dan Demam Chikunguya.
IV. Upaya-upaya Kesehatan
Masyarakat dalam Mengatasi Penyakit
Masalah Kesehatan Masyarakat adalah
multikausal, maka pemecahanya harus secara multidisiplin. Oleh karena itu,
kesehatan masyarakat sebagai seni atau prakteknya mempunyai bentangan yang
luas. Semua kegiatan baik langsung maupun tidak untuk mencegah penyakit
(preventif), meningkatkan kesehatan (promotif), terapi (terapi fisik, mental,
dan sosial) atau kuratif, maupun pemulihan (rehabilitatif) kesehatan (fisik,
mental, sosial) adalah upaya kesehatan masyarakat.
Selain upaya pencegahan primer,
sekunder dan tersier yang dikalangan dokter dan praktisi kesehatan masyarakat
dikenal sebagai lima tingkat pencegahan, juga dikenal empat tahapan kegiatan
untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat, empat tahapan itu (Rossenberg,
Mercy and Annest, 1998) ialah:
- Apa masalahnya (surveillance). Identifikasi masalah, apa masalahnya, kapan terjadinya, dimana, siapa penderitanya, bagaimana terjadinya, kapan hal itu terjadi apakah ada kaitannya dengan musim atau periode tertentu.
- Mengapa hal itu terjadi (Identifikasi faktor resiko). Mengapa hal itu lebih mudah terjadi pada orang tertentu, faktor apa yang meningkatkan kejadian (faktor resiko) dan faktor apa yang menurunkan kejadian (faktor protektif).
- Apa yang berhasil dilakukan (evaluasi intervensi). Atas dasar kedua langkah terdahulu, dapat di rancang upaya yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah, menanggulangi dengan segera penderita dan melakukan upaya penyembuhan dan pendampingan untuk menolong korban dan menilai keberhasilan tindakan itu dalam mencegah dan menanggulangi masalah.
- Bagaimana memperluas intervensi yang efektif itu (implementasi dalam skala besar). Setelah diketahui intervensi yang efektif, tindakan selanjutnya bagaimana melaksanakan intervensi itu di pelbagai tempat dan setting dan mengembangkan sumber daya untuk melaksanakannya.
Dalam perkembangan selanjutnya,
seolah-olah terjadi dikotomi antara kelompok kedua profesi, yaitu pelayanan
kesehatan kuratif (curative health care), dan pelayanan pencegahan/preventif
(preventive health care). Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan
pendekatan:
a. Pendekatan kuratif
- Dilakukan terhadap sasaran secara
individual.
- Cenderung bersifat reaktif
(menunggu masalah datang, misal dokter menunggu pasien datang di
Puskesmas/tempat praktek).
- Melihat dan menangani klien/pasien
lebih kepada sistem biologis manusia/pasien hanya dilihat secara parsial
(padahal manusia terdiri dari bio-psiko-sosial yang terlihat antara aspek satu
dengan lainnya.
b. Pendekatan preventif
- Sasaran/pasien adalah masyarakat
(bukan perorangan).
- Menggunakan pendekatan proaktif,
artinya tidak menunggu masalah datang, tetapi mencari masalah. Petugas turun di
lapangan/masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah dan melakukan
tindakan.
- Melihat klien sebagai makhluk yang
utuh, dengan pendekatan holistik. Terjadiya penyakit tidak semata karena
terganggunya sistem biologis tapi aspek bio-psiko-sosial.
Secara garis besar, upaya-upaya yang
dapat dikategorikan sebagai seni atau penerapan ilmu kesehatan masyarakat
antara lain sebagai berikut :
a. Pemberantasan penyakit, baik
menular maupun tidak menular.
b. Perbaikan sanitasi lingkungan
c. Perbaikan lingkungan pemukiman
d. Pemberantasan Vektor
e. Pendidikan (penyuluhan) kesehatan
masyarakat
f. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
g. Pembinaan gizi masyarakat
h. Pengawasan Sanitasi Tempat-Tempat
Umum
i. Pengawasan Obat dan Minuman
j. Pembinaan Peran Serta Masyarakat
- Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit
Pengendalian penyakit menular ini dimungkinkan karena orang mengetahui antara lain berbagai cara penularannya. Cara penularan dapat terjadi secara langsung, yaitu, kontak langsung antara penderita dengan orang yang peka. Ataupun secara tidak langsung, yaitu lewat suatu media, seperti air, udara, makanan, tanah, pakaian, serangga, tangan, dan seterusnya.
Untuk kepentingan pemberantasan yang
menggunakan strategi menghilangkan cara transmisi penyakit, maka penyakit
seringkali dikelompokkan atas dasar cara penyebarannya. Hal ini sangat penting
untuk mencegah menjalarnya penyakit dari satu daerah ke daerah lain. Di sinilah
pentingnya peran kesehatan lingkungan, yakni mencegah menyebarnya penyakit
lewat lingkungan.
Adapun pengelompokkan tersebut
adalah sebagai berikut;
• penyakitbawaan air dan makanan (water and food-borne
diseases)
• penyakit bawaan udara (air borne diseases)
• penyakit bawaan tanah
• penyakit bawaan vektor (vector borne diseases)
• penyakitbawaan air dan makanan (water and food-borne
diseases)
• penyakit bawaan udara (air borne diseases)
• penyakit bawaan tanah
• penyakit bawaan vektor (vector borne diseases)
Program pencegahan dapat dilakukan
dengan melakukan vaksinasi yang benar dan teratur. Pencegahan penyakit menular
melalui 3 cara: eliminasi, memutus siklus, dan imunisasi (vaksinasi).
“Mencegah lebih baik dan murah daripada mengobati” Untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit menular khususnya dapat dapat dilakukan dengan 3 cara pendekatan yaitu:
a. Menghilangkan reservoir, yaitu menghilangkan reservoir manusia sebagai sumber penyebaran penyakit
b. Mengisolasi penderita (pasien), yaitu menempatkan pasien di tempat yang khusus untuk mengurangi kontak dengan
orang lain.
c. Karantina adalah membatasi ruang gerak penderita alam jangka waktu tertentu dan menempatkannya bersama sama penderita lain yang sejenis pada tempat yang khusus didesain untuk itu.
“Mencegah lebih baik dan murah daripada mengobati” Untuk pencegahan dan penanggulangan penyakit menular khususnya dapat dapat dilakukan dengan 3 cara pendekatan yaitu:
a. Menghilangkan reservoir, yaitu menghilangkan reservoir manusia sebagai sumber penyebaran penyakit
b. Mengisolasi penderita (pasien), yaitu menempatkan pasien di tempat yang khusus untuk mengurangi kontak dengan
orang lain.
c. Karantina adalah membatasi ruang gerak penderita alam jangka waktu tertentu dan menempatkannya bersama sama penderita lain yang sejenis pada tempat yang khusus didesain untuk itu.
- Memutus mata rantai penularan
Pemberantasan penyakit pengendalian vektor dan hospes penyakit. Vektor adalah hewan yang berperan membawa atau menularkan suatu penyakit, tetapi agen penyebab penyakit
tersebut tidak mengalami perkembang-biakan pada tubuh hewan tersebut. Sebagai contoh: lalat menularkan penyakit disentri. Nyamuk Aedes aegypti menularkan demam berdarah Dengue (DBD). Pengendalian vektor dan hospes penyakit dapat dilakukan dengan berbagai cara: secara mekanik, khemis, dan biologis.
a. Secara mekanik dengan memberantas tempat hidup (sarang) yang disukai vektor dan hospes penyakit tersebut.
– Sebagai contoh: program M-3 (menguras, menutup, dan mengubur).
b. Secara khemis dengan menggunakan obat-obatan pembasmi vektor dan hospes penyakit tersebut.
- Sebagai
contoh: pemberantasan nyamuk dengan menggunakan insektisida (DDT), larvisida (abate) dsb.
contoh: pemberantasan nyamuk dengan menggunakan insektisida (DDT), larvisida (abate) dsb.
c. Secara biologis dengan
menggunakan predator (hewan pemangsa) vektor dan hospes penyakit
tersebut.
- Sebagai contoh: pemberantasan
nyamuk menggunakan ikan, bakteri, cacing, dan jenis nyamuk lainnya.
d. Secara terpadu yaitu menggunakan ketiga cara tersebut bersamaan. Cara terpadu merupakan cara pengendalian vektor dan hospes penyakit yang terbaik dan efektif.Meningkatkan sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan adalah merupakan usaha yang penting untuk memutus hubungan atau mata rantai penularan penyakit
menular. Desinfektansia ialah zat-zat kimia yang dapat membunuh hama-hama penyakit dan jasad-jasad renik lainnya. Misalnya: karbol, formalin, sublimat, kaporit, yodium,
alkohol dan lain-lain.
d. Secara terpadu yaitu menggunakan ketiga cara tersebut bersamaan. Cara terpadu merupakan cara pengendalian vektor dan hospes penyakit yang terbaik dan efektif.Meningkatkan sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan adalah merupakan usaha yang penting untuk memutus hubungan atau mata rantai penularan penyakit
menular. Desinfektansia ialah zat-zat kimia yang dapat membunuh hama-hama penyakit dan jasad-jasad renik lainnya. Misalnya: karbol, formalin, sublimat, kaporit, yodium,
alkohol dan lain-lain.
- Melindungi dengan Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal. Anak diimunisasi, berarti diberikan vaksin untuk merangsang timbulnya kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu sesuai
dengan jenis vaksin yang diberikan. Oleh karena itu, seseorang yang divaksinasi kebal terhadap suatu penyakit tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain. Vaksin ialah suatu perbenihan kuman-kuman yang sudah dibunuh atau dilemahkan. Imunisasi bertujuan untuk merangsang timbulnya kekebalan dari dalam tubuh dengan memasukkan vaksin. Jadi tujuan vaksinasi dengan vaksin ialah untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit yang bersangkutan. Kadar antibodi di dalam darah lambat laun akan menurun.
Karena itu penyuntikan dengan vaksin-vaksin perlu diulangi dan suntikan ulangan ini tergantung pada macamnya vaksin. Imunisasi atau vaksinasi hanya diberikan kepada orang-orang yang sehat saja.
Kekebalan
terhadap suatu penyakit menular dapat digolongkan
menjadi 2, yakni:
a. Kekebalan tidak spesifik adalah pertahanan tubuh pada manusia yang secara alamiah dapat melindungi badan dari suatu penyakit. Misalnya kulit, air mata, cairan-cairan khusus yang keluar dari perut (usus) dan adanya refleks-refleks tertentu, misalnya batuk, bersin dan sebagainya.
b. Kekebalan spesifik dapat diperoleh dari 2 sumber, yakni: (1) Genetik, kekebalan yang berasal dari sumber genetik. (2) Kekebalan dari vaksin.
menjadi 2, yakni:
a. Kekebalan tidak spesifik adalah pertahanan tubuh pada manusia yang secara alamiah dapat melindungi badan dari suatu penyakit. Misalnya kulit, air mata, cairan-cairan khusus yang keluar dari perut (usus) dan adanya refleks-refleks tertentu, misalnya batuk, bersin dan sebagainya.
b. Kekebalan spesifik dapat diperoleh dari 2 sumber, yakni: (1) Genetik, kekebalan yang berasal dari sumber genetik. (2) Kekebalan dari vaksin.
Pada dasarnya ada 2 jenis imunisasi,
yaitu:
a. Imunisasi pasif (Pasive Immunization). Imunisasi pasif adalah immuno-globulin. Jenis imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak (measles pada anak-anak).
b. Imunisasi aktif (Active Immunization). Imunisasi yang diberikan pada anak adalah:
a. Imunisasi pasif (Pasive Immunization). Imunisasi pasif adalah immuno-globulin. Jenis imunisasi ini dapat mencegah penyakit campak (measles pada anak-anak).
b. Imunisasi aktif (Active Immunization). Imunisasi yang diberikan pada anak adalah:
- DPT untuk mencegah
penyakit-penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Polio untuk mencegah penyakit
poliomielitis.
- Campak untuk mencegah
penyakit campak
(measles).
(measles).
- BCG untuk mencegah
penyakit TBC.
V. Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan dilakukan melalui
intervensi pada host/tubuh orang misalnya makan makanan bergizi seimbang,
berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk mencegah terjadinya
penyakit misalnya menghilangkan tempat berkembang biaknya kuman penyakit,
mengurangi dan mencegah polusi udara, menghilangkan tempat berkembang biaknya
vektor penyakit misalnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya
nyamuk Aedes, atau terhadap agent penyakit seperti misalnya dengan memberikan
antibiotika untuk membunuh kuman.
Promosi Kesehatan yang dahulu lebih
dikenal dengan pendidikan kesehatan, adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan
kemauan dan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan.
Mengingat tujuan akhir promosi kesehatan bukan sekedar masyarakat mau hidup
sehat, tetapi juga mampu untuk hidup sehat, maka promosi kesehatan bukan
sekadar menyampaikan pesan-pesan atau informasi-informasi kesehatan agar
masyarakat mengetahui dan berperilaku hidup sehat, tetapi juga bagaimana
masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Promosi kesehatan
masyarakat penting untuk menunjang program-program kesehatan yang lain. Akan
tetapi pada kenyataannya pengakuan ini tidak didukung oleh kenyataan. Artinya dalam
program-program pelayanan kesehatan kurang melibatkan pendidikan kesehatan.
Meskipun program itu mungkin telah melibatkan pendidikan kesehatan tetapi
kurang memberikan bobot. Argumentasi mereka adalah karena pendidikan kesehatan
itu tidak segera dan jelas memperlihatkan hasil.
Dengan perkataan lain promosi
kesehatan itu tidak segera membawa manfaat bagi masyarakat dan yang mudah
dilihat atau diukur. Hal ini memang benar karena pendidikan adalah merupakan
behavioral investment jangka panjang. Hasil investasi pendidikan kesehatan baru
dapat dilihat beberapa tahun kemudian. Dalam waktu yang pendek (immediate
impact) pendidikan kesehatan hanya menghasilkan perubahan atau peningkatan
pengetahuan masyarakat. Sedangkan peningkatan pengetahuan saja belum akan berpengaruh
langsung terhadap indikator kesehatan. Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh
terhadap perilaku sebagai hasil jangka menengah (intermediate impact) dari
pendidikan kesehatan. Selanjutnya perilaku kesehatan akan berpengaruh kepada
meningkatnya indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran (outcome)
pendidikan kesehatan. Hal ini berbeda dengan program kesehatan yang lain,
terutama program
pengobatan yang dapat langsung memberikan hasil (immediate impact) terhadap penurunan kesakitan.
pengobatan yang dapat langsung memberikan hasil (immediate impact) terhadap penurunan kesakitan.
Konsep ini berangkat dari suatu
asumsi bahwa manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya untuk mencapai
nilai-nilai hidup di dalam masyarakat selalu memerlukan bantuan orang lain yang
mempunyai kelebihan (lebih dewasa, lebih pandai, lebih mampu, lebih tahu dan sebagainya).
Dalam mencapai tujuan tersebut, seorang individu, kelompok atau masyarakat
tidak terlepas dari kegiatan belajar. Kegiatan atau proses belajar dapat
terjadi dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Seseorang dapat dikatakan
belajar apabila didalam dirinya terjadi perubahan, dari tidak tahu menjadi
tahu, dari tidak dapat mengerjakan menjadi dapat mengerjakan sesuatu. Namun
demikian tidak semua perubahan itu terjadi karena belajar saja, misalnya
perkembangan anak dari tidak dapat berjalan menjadi dapat berjalan. Perubahan
ini terjadi bukan hasil proses belajar tetapi karena proses kematangan.
Bertitik tolak dari konsep tersebut,
maka konsep promosi kesehatan itu juga proses belajar pada individu, kelompok
atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu,
dari tidak mampu mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri menjadi mampu,
dan lain sebagainya. Berangkat dari konsep pendidikan kesehatan dan bagan di
bawah, pendidikan kesehatan didefenisikan sebagai usaha atau kegiatan untuk
membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan
(perilaku) nya / mereka untuk mencapai kesehatannya / kesehatan mereka secara
optimal.
Seperti telah disebutkan di atas
bahwa prinsip pokok pendidikan kesehatan adalah proses belajar. Didalam
kegiatan belajar terdapat 3 persoalan pokok, yakni persoalan masukan (input),
proses dan persoalan keluaran (output). Persoalan masukan dalam pendidikan
kesehatan adalah menyangkut sasaran belajar (sasaran didik) yaitu individu, kelompok,
atau masyarakat yang sedang belajar itu sendiri dengan berbagai latar
belakangnya.
Promosi kesehatan di sekolah pada
prinsipnya adalah menciptakan sekolah sebagai komunitas yang mampu meningkatkan
kesehatannya (health promoting school). Oleh sebab itu, program promosi
kesehatan sekurang-kurangnya mencakup 3 usaha pokok, yakni:
1) Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat
1) Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat
Lingkungan sekolah yang sehat,
mencakup 2 aspek, yakni social (non-fisik dan fisik).
a. Aspek non-fisik (mental-sosial)
Lingkungan sosial sekolah adalah menyangkut hubungan antara komunitas sekolah (murid, guru, pegawai sekolah dan orang tua murid). Lingkungan mental sosial yang sehat terjadi apabila hubungan yang harmonis, dan kondusif di antara komponen masyarakat sekolah. Ini akan menjamin terjadinya pertumbuhan dan perkembangan anak atau murid dengan baik, termasuk tumbuhnya perilaku hidup sehat.
b. Lingkungan fisik
Bangunan sekolah dan lingkungannya yang terdiri dari:
• Letak sekolah tidak berdekatan dengan tempat-tempat umum atau keramaian, misalnya pasar, terminal, mall, dan sebagainya.
• besar dan konstruksi gedung sekolah sesuai dengan jumlah murid yang ditampungnya.
• Tersedianya halaman sekolah dan kebun sekolah.
• Ventilasi memadai sehingga menjamin adanya sirkulasi udara di setiap ruang kelas.
• Penerangan atau pencahayaan harus cukup, utamanya cahaya dari sinar matahari dapat masuk ke setiap ruang kelas.
• System pembuangan air limbah maupun air hujan dijamin tidak menimbulkan genangan (harus mengalir).
• Tersedia air bersih dan pembuangan air besar atau air kecil (jamban).
• Tersedianya tempat pembunagan sampah di setiap kelas, dan tersa sekolah.
• Tersedianya kantin atau warung sekolah, sehingga kebersihan dan keamanan makanan dapat diawasi.
a. Aspek non-fisik (mental-sosial)
Lingkungan sosial sekolah adalah menyangkut hubungan antara komunitas sekolah (murid, guru, pegawai sekolah dan orang tua murid). Lingkungan mental sosial yang sehat terjadi apabila hubungan yang harmonis, dan kondusif di antara komponen masyarakat sekolah. Ini akan menjamin terjadinya pertumbuhan dan perkembangan anak atau murid dengan baik, termasuk tumbuhnya perilaku hidup sehat.
b. Lingkungan fisik
Bangunan sekolah dan lingkungannya yang terdiri dari:
• Letak sekolah tidak berdekatan dengan tempat-tempat umum atau keramaian, misalnya pasar, terminal, mall, dan sebagainya.
• besar dan konstruksi gedung sekolah sesuai dengan jumlah murid yang ditampungnya.
• Tersedianya halaman sekolah dan kebun sekolah.
• Ventilasi memadai sehingga menjamin adanya sirkulasi udara di setiap ruang kelas.
• Penerangan atau pencahayaan harus cukup, utamanya cahaya dari sinar matahari dapat masuk ke setiap ruang kelas.
• System pembuangan air limbah maupun air hujan dijamin tidak menimbulkan genangan (harus mengalir).
• Tersedia air bersih dan pembuangan air besar atau air kecil (jamban).
• Tersedianya tempat pembunagan sampah di setiap kelas, dan tersa sekolah.
• Tersedianya kantin atau warung sekolah, sehingga kebersihan dan keamanan makanan dapat diawasi.
2) Pemeliharaan Kebersihan Perorangan
dan Lingkungan Pemeliharaan kesehatan perorangan dan lingkungan merupakan
factor yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang
sehat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rangka pemeliharaan kebersihan
perorangan (personal hygiene), khususnya bagi murid-murid adalah:
• kebersihan kulit, kuku, rambut, telinga, telinga, dan hidung.
• kebersihan mulut dan gigi.
• kebersihan dan kerapian pakaian.
• Memakai alas kaki (sepatu atau sandal).
• cuci tangan sebelum memegang makanan, dan sebagainya.
• kebersihan kulit, kuku, rambut, telinga, telinga, dan hidung.
• kebersihan mulut dan gigi.
• kebersihan dan kerapian pakaian.
• Memakai alas kaki (sepatu atau sandal).
• cuci tangan sebelum memegang makanan, dan sebagainya.
Sedangkan kebersihan lingkungan yang
perlu diperhatikan antara lain:
• kebersihan perlengkapan sekolah (bangku, meja, dan alat
sekolah yang lain).
• kebersihan kaca, jendela, dan lantai
• kebersihan WC dan kamar kecil.
• kebersihan ruang kelas.
• membuang sampah pada tempatnya.
• membiasakan meludah tidak di sembarang tempat.
• pemeliharaan taman atau kebun sekolah.
• kebersihan perlengkapan sekolah (bangku, meja, dan alat
sekolah yang lain).
• kebersihan kaca, jendela, dan lantai
• kebersihan WC dan kamar kecil.
• kebersihan ruang kelas.
• membuang sampah pada tempatnya.
• membiasakan meludah tidak di sembarang tempat.
• pemeliharaan taman atau kebun sekolah.
Untuk mencapai tujuan tersebut
diperlukan tahap-tahap:
– Memberikan pengetahuan tentang prinsip dasar hidup sehat.
– Menimbulkan sikap dan perilaku hidup sehat.
– Membentuk kebiasaan hidup sehat.
– Memberikan pengetahuan tentang prinsip dasar hidup sehat.
– Menimbulkan sikap dan perilaku hidup sehat.
– Membentuk kebiasaan hidup sehat.
3) Ruang lingkup promosi
kesehatan masyarakat
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya, dan dimensi tingkat pelayanan kesehatan.
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain dimensi sasaran pendidikan, dimensi tempat pelaksanaan atau aplikasinya, dan dimensi tingkat pelayanan kesehatan.
Dari dimensi sasarannya, pendidikan
kesehatan dapat
dikelompokkan menjadi 3 yakni:
a. Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu.
b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok.
c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
dikelompokkan menjadi 3 yakni:
a. Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu.
b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok.
c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
Dimensi tempat pelaksanaannya,
pendidikan kesehatan dapa berlangsung di berbagai tempat, dengan sendirinya
sasarannya berbeda pula, misalnya :
a. Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid.
b. Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dilakukan di rumah-rumah sakit dengan sasaran pasien atau keluarga pasien, di puskesmas, dan sebagainya.
c. Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan yang bersangkutan.
a. Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid.
b. Pendidikan kesehatan di rumah sakit, dilakukan di rumah-rumah sakit dengan sasaran pasien atau keluarga pasien, di puskesmas, dan sebagainya.
c. Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan yang bersangkutan.
VI. Masalah-Maslah Kesehatan
Lingkungan
Masalah-masalah
Kesehatan Lingkungan di Indonesia
1. Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan
untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan
dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Syarat-syarat Kualitas
Air Bersih diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
b. Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)
c. Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)
a. Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna
b. Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan 0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)
c. Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0 per 100 ml air)
2. Pembuangan Kotoran/Tinja
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat berikut :
a. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air
c. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
f. Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang.
g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
Metode pembuangan tinja yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat berikut :
a. Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
b. Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang mungkin memasuki mata air
c. Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
d. Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
f. Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak sedap dipandang.
g. Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana dan tidak mahal.
3. Kesehatan Pemukiman
Secara umum rumah dapat dikatakan
sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut a. Memenuhi kebutuhan
fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan ruang gerak
yang
cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
b. Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah
b. Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privacy yang cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah
c. Memenuhi persyaratan pencegahan
penularan penyakit antarpenghuni rumah
dengan penyediaan air bersih,
pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan tikus,
kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar matahari pagi,
terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping pencahayaan dan
penghawaan yang cukup.
d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.
d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.
4. Pembuangan Sampah
Teknik pengelolaan sampah yang baik harus memperhatikan faktor-faktor/unsur :
a. Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tk sosial
Teknik pengelolaan sampah yang baik harus memperhatikan faktor-faktor/unsur :
a. Penimbulan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tk sosial
ekonomi, letak geografis, iklim,
musim, dan kemajuan teknologi.
b. Penyimpanan sampah.
c. Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali.
d. Pengangkutan
e. Pembuangan
Dengan mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui hubungan dan urgensinya masing-masing unsur tersebut agar kita dapat memecahkan masalah-masalah ini secara efisien.
c. Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali.
d. Pengangkutan
e. Pembuangan
Dengan mengetahui unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui hubungan dan urgensinya masing-masing unsur tersebut agar kita dapat memecahkan masalah-masalah ini secara efisien.
5. Serangga dan Binatang Pengganggu
Serangga sebagai reservoir (habitat
dan suvival) bibit penyakit yang kemudian disebut sebagai vektor misalnya :
pinjal tikus untuk penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit
Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk Demam Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp
untuk Penyakit Kaki Gajah/Filariasis. Penanggulangan/pencegahan dari penyakit
tersebut diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan makanan dengan
rat proff (rapat tikus), Kelambu yang dicelupkan dengan pestisida untuk
mencegah gigitan Nyamuk Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan
menutup) tempat penampungan air untuk mencegah penyakit DBD, Penggunaan kasa
pada lubang angin di rumah atau dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki
gajah dan usaha-usaha sanitasi.
Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.
Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan penyakit rabies/anjing gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit penyakit ke makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.
6. Makanan dan Minuman
Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi :
a. Persyaratan lokasi dan bangunan;
b. Persyaratan fasilitas sanitasi;
c. Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan;
d. Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi;
e. Persyaratan pengolahan makanan;
f. Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi;
g. Persyaratan peralatan yang digunakan.
Sasaran higene sanitasi makanan dan minuman adalah restoran, rumah makan, jasa boga dan makanan jajanan (diolah oleh pengrajin makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel).
Persyaratan hygiene sanitasi makanan dan minuman tempat pengelolaan makanan meliputi :
a. Persyaratan lokasi dan bangunan;
b. Persyaratan fasilitas sanitasi;
c. Persyaratan dapur, ruang makan dan gudang makanan;
d. Persyaratan bahan makanan dan makanan jadi;
e. Persyaratan pengolahan makanan;
f. Persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi;
g. Persyaratan peralatan yang digunakan.
- Pencemaran Lingkungan
Pencemaran lingkungan diantaranya
pencemaran air, pencemaran tanah, pencemaran udara. Pencemaran udara dapat
dibagi lagi menjadi indoor air pollution dan out door air pollution. Indoor air
pollution merupakan problem perumahan/pemukiman serta gedung umum, bis kereta
api, dll. Mengenai masalah out door pollution atau pencemaran udara di luar
rumah, berbagai analisis data menunjukkan bahwa ada kecenderungan peningkatan.
Keadaan ini, bagi jenis pencemar yang akumulatif, tentu akan lebih buruk di
masa mendatang. Pembakaran hutan untuk dibuat lahan pertanian atau sekedar
diambil kayunya ternyata membawa dampak serius, misalnya infeksi saluran pernafasan
akut, iritasi pada mata, terganggunya jadual penerbangan, terganggunya ekologi
hutan.
Penyebab masalah kesehatan
lingkungan di Indonesia
1. Pertambahan dan kepadatan penduduk.
2. Keanekaragaman sosial budaya dan adat istiadat dari sebagian besar penduduk.
3. Belum memadainya pelaksanaan fungsi manajemen.
1. Pertambahan dan kepadatan penduduk.
2. Keanekaragaman sosial budaya dan adat istiadat dari sebagian besar penduduk.
3. Belum memadainya pelaksanaan fungsi manajemen.
VII. Perilaku Kesehatan
Perilaku manusia (human behavior)
merupakan reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat kompleks. Pada
manusia khususnya dan pada berbagai spesies hewan umumnya memang terdapat
bentuk-bentuk perilaku instinktif (species-specific behavior) yang didasari
oleh kodrat untuk mempertahankan kehidupan. Perilaku manusia merupakan hasil
dari pada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya
yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan.
Perilaku kesehatan adalah suatu
respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit,
system pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Bentuk dari perilaku
tersebut ada dua yaitu pasif dan aktif. Perilaku pasif merupakan respon
internal dan hanya dapat dilihat oleh diri sendiri sedangkan perilaku aktif
dapat dilihat oleh orang lain. Masyarakat memiliki beberapa macam perilaku
terhadap kesehatan. Perilaku tersebut umumnya dibagi menjadi dua, yaitu
perilaku sehat dan perilaku sakit. Perilaku sehat yang dimaksud yaitu perilaku
seseorang yang sehat dan meningkatkan kesehatannya tersebut. Perilaku sehat
mencakup perilaku-perilaku dalam mencegah atau menghindari dari penyakit dan penyebab
penyakit atau masalah, atau penyebab masalah (perilaku preventif). Contoh dari
perilaku sehat ini antara lain makan makanan dengan gizi seimbang, olah raga
secara teratur, dan menggosok gigi sebelum tidur.
Yang kedua adalah perilaku sakit.
Perilaku sakit adalah perilaku seseorang yang sakit atau telah terkena masalah
kesehatan untuk memperoleh penyembuhan atau pemecahan masalah kesehatannya.
Perilaku ini disebut perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health seeking
behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang diambil seseorang bila
terkena masalah kesehatan untuk memperoleh kesembuhan melalui sarana pelayanan
kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
Secara lebih detail, Becker (1979)
membagi perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan menjadi tiga,
yaitu:
- perilaku kesehatan : hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Contoh : memilih makanan yang sehat, tindakan-tindakan yang dapat mencegah penyakit.
- perilaku sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individuyang merasa sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Contoh pengetahuan individu untuk memperoleh keuntungan.
- perilaku peran sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh kesehatan.
Terdapat dua paradigma dalam
kesehatan yaitu paradigma sakit dan paradigma sehat.Paradigma sakit adalah
paradigma yang beranggapan bahwa rumah sakit adalah tempatnya orang sakit.
Hanya di saat sakit, seseorang diantar masuk ke rumah sakit. Ini adalah
paradigma yang salah yang menitikberatkan kepada aspek kuratif dan
rehabilitatif. Sedangkan paradigma sehat Menitikberatkan pada aspek promotif
dan preventif, berpandangan bahwa tindakan pencegahan itu lebih baik dan lebih
murah dibandingkan pengobatan.
Perilaku manusia merupakan hasil
dari segala macam pengalaman serta interaksi antara manusia dengan lingkungan
yang diwujudkan dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku dibentuk
melalui suatu proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dan lingkungan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku dibedakan menjadi
dua, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern mencakup pengetahuan,
kecerdasan, emosi, inovasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah
rangsangan dari luar. Faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik
maupun non fisik separti iklim, sosial ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.
Perilaku yang terbentuk di dalam
diri seseorang dari dua faktor utama, yaitu stimulus yang merupakan faktor dari
luar diri seseorang (faktor eksternal) dan respon yang merupakan faktor dari
dalam diri orang yang bersangkutan (faktor internal). Faktor eksternal atau
stimulus adalah faktor lingkungan, baik lingkungan fisik maupun non fisik dalam
bentuk sosial budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor eksternal yang
paling besar perannya dalam membentuk perilaku manusia adalah faktor sosial dan
budaya tempat seseorang tersebut berada. Faktor internal yang menentukan seseorang
merespon stimulus dari luar adalah perhatian, pengamatan, persepsi motivasi,
fantasi, sugesti dan sebagainya.
Terdapat empat cara untuk membentuk
perilaku, yaitu melalui penguatan positif, penguatan negatif, hukuman dan
pemunahan. Bila suatu respon diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan, respon
tersebut penguatan positif. Bila suatu respon diikuti oleh dihentikannya atau
ditarik kembalinya sesuatu yang tidak menyenangkan, disebut penguatan negatif.
Kedua penguatan positif dan negatif tersebut akan menentukan hasil dari proses
belajar. Keduanya memperkuat respon dan meningkatkan kemungkinan untuk
mengulangi perilaku yang dipelajari. Penghukuman akan mengakibatkan suatu
kondisi yang tidak enak dalam suatu usaha untuk menyingkirkan suatu perilaku
yang tidak diinginkan. Proses pembentukan sikap dan perilaku berlangsung secara
bertahap dan melalui proses belajar yang diperoleh dari berbagai pengalaman
atau menghubungkan pengalaman dengan hasil belajar.
Perilaku tertutup (covert behavior),
terjadi jika respon terhadap stimulus masih belum dapat diamati orang lain
(dari luar) secara jelas. Respon seseorang masih terbatas dalam bentuk
perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang
bersangkutan. Bentuk covert behavior yang dapat diukur adalah pengetahuan dan
sikap. Sedangkan perilaku terbuka (overt behavior), terjadi jika respon
terhadap stimulus sudah berupa tindakan atau praktek yang dapat diamati orang
dari luar.
Terbentuknya perilaku dimulai pada
domain kognitif, yaitu dimulai tahu terlebih dahulu terhadap stimulus sehingga
menumbulkan pengetahuan baru. Pengetahuan baru ini selanjutnya akan menimbulkan
respon batin dalam bentuk sikap baru yang pada akhirnya akan menimbulkan respon
yang lebih tinggi lagi yaitu adanya tindakan sehubungan dengan stimulus atau
objek tadi.
Terdapat beberapa teori determinan
perilaku, atau faktor yang menentukan atau membentuk perilaku menurut misalnya
teori Green, dan teori WHO. Berdasarkan teori Green (didasarkan pada masalah
kesehatan), membedakan dua determinan masalah kesehatan yaitu faktor
perilaku (behavioral factors) dan faktor non perilaku (non behavioral
factors ). Sedangkan faktor pembentuk perilaku, antara lain : Predisposing
factors, adalah faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya
perilaku seseorang antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan,
nilai-nilai dan tradisi. Faktor berikutnya adalah enabling faktor, yaitu faktor
yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan. Antara lain
umur, status sosial ekonomi, pendidikan, prasarana dan sarana serta sumberdaya.
Sedangkan faktor terakhir berupa faktor pendorong atau penguat (reinforcing
factors), yaitu faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku
misalnya dengan adanya contoh dari para tokoh masyarakat yang menjadi panutan.
Sedangkan menurut teori WHO,
beberapa faktor yang
mempengaruhi perilaku antara lain pemikiran dan perasaan
(thoughts and feeling) atau pertimbangan pribadi seseorang terhadap objek atau
stimulus. Faktor selanjutnya adalah faktor personal references, faktor
sumber daya (resourcesserta faktor sosial budaya (culture) setempat.